Lahirnya 3 pendekar naga
Di suatu saat
di zaman kerajaan majapahit lahirlah seorang anak yang bernama panji
kalamangsa. Panji adalah anak keenam dari pasangan kalawati dan trunabakti.
Saat ini panji telah berusia 11 tahun. Rumah keluarga trunabakti berada di
samping sungai. trunabakti memiliki 14 orang anak yang kesemuanya laki laki.
Di suatu sore
hari anak2 trunabakti sedang mandi di sungai samping rumahnya. Pada saat
bersamaan seorang pertapa yang barusaja turun gunung melewati rumah trunabakti.
Saat itu ia melihat panji dan suadara2nya tengah telanjang menikmati mandi
mereka. Pertapa yang bernama ki brama ini terkejut saat melihat kedua buah
zakar panji berkilauan seolah memancarkan kekuatan. Tiba2 ia teringat wangsit
yang dia terima saat ia bertapa bahwa aka nada 3 pendekar yang lahir dari
keturunan pemuda yang buah zakarnya bercahaya gaib.
Akhirnya
setelah berbicara dengan trunabakti, pertapa itu berhasil membawa panji untuk
menjadikannya murid sekaligus menjaga panji dari orang2 yang ingin memanfaatkannya.
Ia yakin kalau saat ini kaum pemberontak kerajaan telah mengetahui keberadaan
kesatria2 yang akan lahir dari keturunan panji melalui dukun dukun mereka.
Sepanjang
perjalanan, ki brama terus mengajarkan panji cara untuk merawat alat vitalnya.
Ki brama mengajarkan cara merawat buah zakar agar panji bisa menjaga calon
kesatria yang bersemayam di dalam buah zakarnya. Seperti malam mini, ki brama
menyuruh panji unuk bertelanjang bulat. Ia memeriksa alat vital panji untuk
melihat perkembangan alat vital panji. Ia cukup terkesima bahwa anak 11 tahun
itu memiliki tubuh yang kekar karena sering membantu ayahnya di ladang. Ia pun
juga terkesima oleh alat vital panji yang cukup besar untuk anak seusianya.
Usia panji yang menginjak 11 tahun adalah usia yang penting dimana buah
zakarnya sedang berkembang dengan pesatnya. Buah zakar panji saat ini sudah lebih
besar dari telur burung puyuh, Sedangkan kontolnya telah mencapai 15cm.
Malam ini panji
akan diurut alat vitalnya sekaligus diajari cara merawat dan menguatkan
kejantanan. Panji yang telah dalam keadaan telanjang bulat kemudian terlentang
di atas batu besar. Ki brama kemudian mengelus buah zakar panji,
P- ki, kenapa
ki brama mengelus buah zakar saya?
KB- karena
dalam buah zakarmu inilah ada calon keturunanmu kelak. Kau pasti pernah melihat
kedua orang tuamu bersetubuh bukan?
P- iya ki, saya
pernah melihat romo dan ibu telanjang sambil saling bertindihan, zakar bopo
dimasukkan dalam lubang ibu. Kata kakak, mereka sedang membuatkan adik untukku.
KB- nah, saat kegiatan
mereka hampir berakir pasti romomu kencing dalam lubang ibumu kan?
P- iya ki, tapi
kecing romo putih dan kental. Kakak kakakku juga mengeluarkan kencing putih
kental itu kalau kontolnya dikocok.
KB – panji,
itulah benih laki laki. Benih laki-laki dibuat di buah zakar. Kalau kau sudah
besar dan berhubungan dengan wanita benih itu akan menjadi bayi jika kau
mengeluarkannya dalam memek dan pada saat tepat yaitu saat masa subur wanita.
P – jadi
anak-anak panji ada di dalam buah zakar panji?
KB – iya panji,
itu sebabnya kau harus menyayangi buah zakarmu, karena di dalamnya ada calon
anak-anakmu.
P – baik ki,
panji akan sayang pada calon anak2 panji. Tapi ki, apa panji sudah bisa membuat
benih anak-anak panji?
KB – untuk saat
ini belum panji, alat vitalmu tengah berkembang. Buah zakarmu saat ini sedang
membesar, belum saatnya untuk menghasilkan benih. Itu karena usiamu baru 11 tahun, mungkin setahun atau 2 tahun
lagi kau sudah mulai menghasilkan benih. Itu sebabnya aku akan memijat alat
vitalmu agar kau bisa menghasilkan benih yang banyak.
Kemudian ki
brama mengurut lembut buah zakar panji. Ia mengurut pangkal buah zakarnya,
dimana saluran sperma panji berada. Mengurut saluran sperma bertujuan untuk
memperlancar peredaran darah sekaligus melancarkan aliran benih panji nantinya.
Kemudian ki brama memijat biji pelir kiri panji. Ia memijit sambil mengalirkan
energy ke dalam buah pelir panji. Aliran energy itu membuat panji kelojotan
seperti tersetrum.
P – ahhh..
sakit ki, sakit…
KB – kau harus
sabar panji, aku sedang mengalirkan energy ke dalam buah zakarmu agar kau
memiliki buah zakar yang kuat.
Akibat pijatan
itu kontol panji ikut menegang, tiap kali gerakan urutan dilakukan, kontol
panji berkedut, panji merasakan nikmat sekaligus ngilu di buah zakarnya. Setelah
beberapa saat di pijat dan dialiri energy oleh ki brama, kontol panji tiba2
menegang kuat. Ki brama tahu bahwa panji akan segera berejakulasi. Ki brama pun
menggenggam kedua buah zakar panji dengan tangan kiri dan tangan kanannya
mengurut urut kontolnya, tiba2 panji mengejang dan muncratlah cairan bening
dalam jumlah yang banyak.
KB – hahaha..
ternyata kau sudah bisa konak juga. Tapi sepertinya kau memang belum bisa
menghasilkan benih. Lihat saja pejuhmu masih bening.
Setelah pijatan
itu ki brama mengistirahatkan alat vital panji. Sejak malam itu setiap hari ki
brama melatih alat vital panji dengan berbagai amalan-amalan. Tidak terasa satu
tahun sudah panji mengambara bersama ki brama. Panji telah berusaia 12 tahun.
Setelah satu tahun alat vital panji benar2 sudah berkembang. Bulu2 kemaluan
panji sudah mulai tumbuh, kontol panji kini 17cm panjangnya, dan buah zakar
panji kini sebesar telur ayam kampung. Panji sudah mulai menunjukkan tanda2
kedewasaan. Tubuh panji semakin kekar dengan dadanya yang makin bidang,
tubuhnya juga sedang tumbuh dengan pesatnya. Perut panji yang awalnya sedikit
berlemak kini semakin berotot.
Panji kini berusia 12 tahun dan para pemberontak kerajaan
akhirnya mengetahui keberadaan panji dan ki brama dengan bantuan dukun2 mereka.
Pada akhirnya para pemberontak itu menangkap ki brama dan panji. Sayangnya ki
brama bukanlah pertapa yang mampu melakukan beladiri. Ki brama akhirnya
terbunuh dan para pemberontak itu berhasil menculik panji.
-hahaha… jadi
ini pemuda yang keturunannya akan menjadi kesatria hebat itu? Kata pimpinan
pemberontak.
-betul tuanku,
saya akan memastikan bahwa ini adalah pemuda yang dimaksud dengan bantuan dukun
dukun tuan. Kata prajuri pemberontak. Hai kalian telanjangi pemuda itu.
Panji pun
akhirnya ditelanjangi oleh para prajurit pemberontak. Panji kemudian dipegangi
tangan dan kakinya agar para dukun bisa melihat buah zakarnya.
Para dukun itu
melihat kilauan dari kedua buah zakar panji. Mereka akhirnya yakin kalau panji
adalah pemuda yang dimaksud. Pemimpin pemberontak yang bernama mangunjaya itu
pun mendatangi panji. Ia menatap panji dengan ekspresi menyeringai. “hai kau,
mulai saat ini kau adalah anak buahku, kau akan menjadi prajuritku. Kau tahu
kenapa? Karena keturunanmu kelak akan menjadi kesatria yang membela kami. Dan
jika kau berani macam-macam atau kabur dari sini kau tahu apa yang akan tejadi
padamu? Kau akan kami kebiri biar kesatria-kesatria itu tak pernah lahir
sehingga tak bisa dimanfaatkan musuh kami. Panji yang ketakutan akhirnya
menurut saja.
Di pedepokan
para pemberontak itu panji dilatih dengan berbagai macam ilmu beladiri. Ia
dilatih demikian agar keturunan panji kelak akan menjadi kesatria yang hebat
bagi pembrontak2 tsb. Panji diberi ramu2an dan diberi makanan yang bergizi agar
kejantanan panji berkembang dengan baik. Setelah 2 tahun akhirnya panji kini
berusia 14 tahun. Perlakuan istimewa itu rupanya menimbulkan iri dengki di hati
anak mangunjaya yaitu barda. Barda selain iri dengan perlakuan istimewa ayahnya
kepada panji juga iri dengan fisik panji yang menarik perhatian para gadis.
Wajah panji yang tampan dengan tubuh yang kekar perkasa sungguh sangat indah.
Selain itu alat vital panji telah mencapai ukuran sempurnanya. Kontolnya
mencapai panjang 20cm, sedangkan buah pelirnya mencapai sebesar telur bebek.
Saat ini panji yang berusia 14 tahun sudah mampu menghasilkan benih keturunan.
Air mani panji sudah sangat banyak, bahkan lebih banyak dari orang yang telah
dewasa.
Barda yang
berusia 2 tahun lebih tua dari panji merencanakan sesuatu pada panji. Ia ingin
merusak kejantanan panji, karena buah zakar panji itulah ayahnya menjadi kurang
perhatian padanya. Apalagi ia melihat sendiri bagaimana ayahnya sering memijat
alat vital panji agar alat vitalnya makin perkasa.
Pada suatu hari
panji sedang disuruh ke sungai untuk mengambil air. Sungainya terletak cukup
jauh dari padepokan. Panji yang membawa pikulan berencana mandi di sungai
sekalian karena hari sudah agak sore. Tanpa disangka sangka barda dan
teman-temannya ikut bersama panji. Mereka bilang akan mandi bersama di sungai.
Panji tidak menaruh curiga apapun pada barda dan teman temannya.
Setelah sampai
sungai dan memenuhi dua baki dengan air panji pun membuka bajunya untuk mandi
bersama barda dan tean temannya.
B- wah besar
sekali kontolmu
P- biasa saja
den, punya aden barda juga besar.
Kemudian
setelah mandi panji duduk di pinggir kali di atas sebuah batu untuk memijat
alat vitalnya. Ia mengurut kontolnya dan dengan tangan yang satunya lagi dia
memijat buah pelirnya. Barda yang mengetahui hal itu segera mendekati panji.
B- kau sering
memijat alat kelaminmu ya?
P- iya den,
biar nanti saya mudah punya anak.
B- boleh aku
pegang alat vitalmu? Aku ingin punya alat vital yang besar seperti punyamu.
P- boleh den
Barda pun
mengelus dan menimang buah zakar panji yang sebesar telur bebek, sementara
miliknya sendiri hanya sebesar telur puyuh, dan alat vital panji yang 20cm itu
tentunya terlalu panjang bila dibandingkan miliknya yang mungkin hanya separuh
milik panji.
Tiba2 teman
teman barda menyergap panji dari belakang, panji yang lebih muda bukan
tandingan mereka. Kemudian panji dipegangi tangan dan kakinya oleh para pemuda
itu.
P-apa yang den
barda lakukan pada saya?
B-tak perlu
pura2 bego kamu, gara2 ini ayahku tidak memperhaikanku lagi, kemudian barda
meremas kedua buah zakar panji dengan kedua tangannya…
P- AAARRGGHHH…
jangan sakiti buah zakar saya den barda.. ampun den barda….
B- hahaha… biar
mampus biji zakarmu. Gara2 kau ayahku tidak perhatian lagi padaku. Sekarang kau
harus diberi pelajaran. Kau pasti ingin sekali punya anak kan, nih rasakan buat
anak anakmu
Tiba2 barda
menendang buah zakar panji.
P-AARRGGHHH…!!
B- Hahaha…
rasakan itu…
Kemudian barda
menyuruh salah seorang anak buahnya mengocok kontol panji yang sudah menegang.
Sedangkan barda mengambil sebuah ranting. Dengan kejam ia memukul mukulkan
ranting itu tepat ke kantung keturunan panji.
P- AARRHH….
Sakit den barda.. jangan den barda…
Berkali kali
barda memukulkan batang ranting itu ke buah pelir panji yang besar. Karena suhu
yang agak panas buah zakar panji yang menggantung agak jauh dari selangkangan
membuat buah pelir panji terpelanting ke sana kemari setiap batang ranting itu
mengenai buah pelirnya. Sete;ah puas dengan cambukan itu, barda tersenyum kecut
melihat kantung pelir panji memerah dan lebam lebam bekas cambukannya. Kemudia
barda memerintahkan anak buahnya mengocok kontol panji lebih cepat dan kuat. Ia
melihat ujung kemaluan pani telah meneteskan air mazi dalam jumlah yg cukup
banyak. Buah pelir panji juga telah muali naik menuju selangkangan yang
mengartikan dia akan segera ejakulasi.
Sesaat kemudia
barda melayangkan pukulan ke arah testis panji. Ia memukul buah zakar panji
dengan kekuatan penuh. “nih buat anak anakmu yang calon kesatria itu” dan
BUUGHH..!!! barda memukul kemauluan panji tepat di buah zakarnya. Di saat yang
bersamaan batang kemaluan panji memuncratkan benih kejantanannya yang sangan
banyak dan kental menyemprot mengenai barda hingga barda belepotan sperma
panji. Setelah pancutan terakhir panji dilepaskan, ia langsung lemas, lunglai,
ambruk sambil memegangi kemaluannya yang disiksa dengan kejam. Air matanya
meleleh merasakan sakit yang amat sangat, sakit di kemaluan dan sakit di
perasaan dimana ia memikirkan bagaimana nasib calon anak2 yang sangat ia
sayangi.




No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.